Senin, 17 Maret 2008

Guru di Garis Terdepan Pendidikan

Denpasar, Selasa (11 Maret 2008) -- Guru berada di garis terdepan pendidikan. Tanpa guru, sistem yang dibangun tidak akan berhasil. "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu pentingnya guru dari sudut pandang kami," ungkap Wakil Presiden M. Jusuf Kalla.
Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka secara resmi E-9 Ministerial Review Meeting ke-7 di Hotel Westin, Nusa Dua, Denpasar, Bali pada Selasa (11/03/2008) . Hadir pada pembukaan pertemuan menteri-menteri pendidikan sembilan negara berpenduduk besar adalah Mendiknas Bambang Sudibyo, Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura, dan perwakilan delegasi dari Bangladesh, Brazil, Cina, India, Indonesia, Meksiko, Mesir, Nigeria, dan Pakistan.
Dalam kata sambutannya, Wapres menyampaikan bahwa kesejahteraan suatu bangsa bergantung pada ekonomi dan teknologi. Sementara kemajuan teknologi bergantung pada pendidikan. "Pertemuan ini sangat penting. Saya setuju banyak faktor untuk mengembangkan pendidikan di dunia. Guru merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan. Guru berada di front line pendidikan," katanya.
Kalla berpendapat bahwa dengan meningkatnya kualitas pendidikan dapat mengubah kesejahteraan. "Ekonomi mengalami perkembangan. Kalau dulu guru mengajar dengan bersepeda, sekarang sudah pakai motor. Tapi itu tetap belum cukup dan harus terus dikembangkan, " ujarnya.
Melalui pertemuan E-9, Kalla berharap sesama negara anggota dapat bertukar pengalaman dan ide. "Saya berharap pertemuan ini akan meningkatkan sistem pendidikan negara peserta melalui peningkatan kapasitas guru."
Mendiknas Bambang Sudibyo melaporkan, pertemuan E-9 diselenggarakan oleh UNESCO bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia sebagai negara tuan rumah. Pertemuan dihadiri para menteri negara anggota E-9, para pakar, jurnalis, dan peninjau dari negara berkembang.
Mendiknas menyampaikan, guru menjadi isu sentral untuk meraih tujuan EFA (Education for All) dan mencapai pendidikan yang berkualitas. "Untuk itu, Indonesia memprioritaskan pengembangan kualitas guru."
Dirjen UNESCO Koichiro Matsuura menjelaskan kondisi kualitas pendidikan dan keaksaraan di negara-negara anggota E-9. Dia menyebutkan, sebanyak 67% kualitas pendidikan yang belum layak terdapat di sembilan negara tersebut. Selain itu, banyak anak yang belum memperoleh pendidikan. "Oleh karena itu, peran guru menjadi sangat penting."
Koichiro mengungkapkan, di negara-negara anggota E-9 masih kekurangan guru bidang sains dan matematika. Dia juga menekankan pentingnya pelatihan bagi guru, pembuatan standar, monitoring kebijakan dan evaluasi. "Inovasi pelatihan guru menggunakan pendidikan jarak jauh berdampak positif. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) perlu terus didukung," katanya.
***Sumber: Pers Depdiknas

Tidak ada komentar: